Pengertian Orientasi Manajemen

Model Autokratis 

      Model autokratis sangat berakar dalam sejarah, dan tentunya model ini kemudian menjadi model revolusi industri yang berlaku luas, model ini bergantung pada kekuasaan. Mereka yang memegang tampuk komando harus memiliki kekuasaan untuk menuntut, “Anda melakukan ini – atau yang lain,” yang berarti bahwa pegawai yang tidak mematuhi perintah akan memperoleh hukuman.
      Dalam lingkungan yang autokratis orientasi manajemen adalah wewenang formal yang resmi. Wewenang ini didelegasikan berdasarkan hal memerintah orang-orang tertentu. Pimpinan percaya bahwa mereka mengetahui apa yang terbaik dan para pegawai berkewajiban untuk mematuhi perintah. Pimpinan berasumsi bahwa pegawai harus dibujuk dan didorong untuk berprestasi, dan inilah tugas pimpinan. Pimpinan melakukan tugas berfikir, para pegawai mematuhi perintah. Pandangan manajemen yang konvensional ini menimbulkan pengendalian yang ketat atas para pegawai di tempat kerja.
      Dalam kondisi autokratis orientasi pegawai adalah kepatuhan kepada boss, bukan pada manajer. Dampak psikologisnya bagi para pegawai adalah kebergantungan kepada atasan, yang kekuasaannya dapat mengangkat, memberhentikan, dan memerintah pegawai merupakan hal yang hampir mutlak. Boss membayar gaji minimum. Pegawai berprestasi minimum – adakalanya dengan perasaan agak berat – karena mereka harus memenuhi kebutuhan pokok bagi mereka sendiri dan keluarganya. Sebagaian pegawai berprestasi lebih tinggi karena dorongan berprestasi dari dalam, karena secara pribadi mereka menyukai boss, karena boss adalah “pemimpinan yang berbakat”, atau karena berbagai faktor lainnya, tetapi sebgaian besar pegawai berprestasi minimum.

0 komentar:

Poskan Komentar